Tampilkan postingan dengan label Gontor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gontor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2010

Sejarah Gontor yang Menakjubkan


Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Imam Zarkasy dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.

Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, dimana para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok(Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).

Pada saat peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun (Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi) dan membunuhi banyak tokoh agama, dimana pada saat itu TNI sudah dilumpuhkan oleh PKI, Pesantren Gontor diliburkan dan santri serta ustadnya hijrah guna menghindar dari kejaran pasukan Muso. KH Ahmad Sahal(alm) selamat dalam persembunyian di sebuah Gua di pegunungan daerah Mlarak. Gua tersebut kini disebut dengan Gua Ahmad Sahal. Kegiatan Pendidikan Pesantren dilanjutkan kembali setelah kondisi normal.

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH Ahmad Fanani dan KH Imam Zarkasy diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dll.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini, untuk mewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universitas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) yang berbasiskan Islam.

Pada tahun 1994 didirikan pondok khusus putri untuk tingkat KMI dan pendidikan tinggi yang khusus menerima alumni KMI. Pondok khusus putri ini menempati tanah wakaf seluas 187 hektar. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kini, pondok khusus putri memiliki lima cabang, tiga cabang berlokasi di Ngawi, satu cabang di [Sulawesi Tenggara]dan satu di Kediri.

Hingga kini gontor telah memiliki 10 cabang yang terdiri dari 13 kampus di seluruh Indonesia dan santri/ santriwatinya mencapai 14.273 orang. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun berdasi dan bercelana panjang pantalon.[*]

Jumat, 07 Mei 2010

Tahun Pertama yang Mengesankan

Saat pertama masuk Gontor, terasa asing dan bingung. Makanannya, kebiasaannya dan kawan-kawan saat itu. Karena termasuk anak dewasa , saat itu ditempatkan di Gedung Baru kibar (GBK)sedang yang termasuk kategori anak-anak ditempatkan di Gedung Baru Shigor (GBS.

Dengan latar belakang lulusan SMP, maka berani mengambil kelas eksperimen, dimana periode studinya hanya 4 tahun belajar: kelas satu, kelas tiga, kelas lima dan kelas enam. Itu adalah sistem untuk kelas eksperimen yang dua tahun lebih cepat dibandingkan teman-teman satu angkatan yang mengambil kelas biasa yang 6 tahun.

Kelas 1 Experimen D. Itulah kelas yang saat itu saya peroleh. Saat paling berkesan pada proses gontoriyah. Ust. Sugiana Zein, sang Wali Kelas yang membentuk kepribadian dalam mencintai Gontor. Beliau begitu tenang dan cerdas. Sosok guru yang penuh dedikasi dan kasih sayang. kesabarannya mendidik kelas kami serta ketelatenannya membantu kami mengenal bahas Arab yang terasa amat susah menjadi begitu disukai ketika berada di tangan beliau. Itu benar-benar hebat.

Di Gontor, Jumat adalah hari libur sehingga setiap siswa memiliki banyak kesempatan dan pilihan untuk melakukan sesuatu. Ada yang mencuci pakaian, kursus bahasa dan keterampilan atau hanya sekedar jalan-jalan ke kota Ponorogo. Untuk urusan yang terakhir, seorang santri tidak mudah pergi ke Ponorogo. Tentunya harus ada izin dari agian Keamanan, dan belum tentu juga mendapatkan izin. pertimangannya; jumlah perizinan 40 orang, dalam hal ini siapa cepat dan beruntung pasti dapat. Akumulasi perizinan, dalam seminggu perizinan tidak boleh lebih dari dua kali. Tidak dalam masa hukuman, baik dari Bagian Keamanan, Pengajaran maupun Mabikori. Itu saja sudah cukup puyeng buat bisa jalan-jalan.Dan saya pikir, memamng Kota Ponorogo menjadi semacam penyegar pikiran.

Satu tahun saya lalui di kelas Eksperimen dengan penuh kenangan indah; buka puasa sunah bersama, ngaji dan hafalan, shalat Tahajud di Lantai 4 Gedung Saudi dan belajar Bahasa Arab di area persawahan bersama wali kelas.

Saya harus mengakui bahwa Gontor memiliki banyak guru yang memiliki dedikasi tinggi untuk membantu membentuk kepribadian anak didiknya. Dan hal itu tidaklah aneh, karena mereka adalah alumni yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan Gontor. Bila anak didik berhasil, tetnunya membawa dampak keberhasiln buat Gontor.

Satu lagi salut saya buat para pengasuh, dimana setiap bangunan memiliki identitas. Dari identitasi itu tercermin cita-cita dan visi yang seharusnya dimiliki santri; ada yang bernama gedung Tunis, Aligarh, Sanggit, Palestina, al-Azhar, Saudi, Gambia, Indonesia, Satelit dll.Hal ini juga menunjukkan bahwa pendiri Gontor memiliki pikiran dan pengalaman yang luas.